Sehat Melalui Kaulinan Sunda “Pecle”

Kaulinan Sunda Pecle

Sariwangi (03/11/2018). Suku sunda adalah salah satu suku di indonesia yang bermukim di barat  pulau jawa tepatnya di Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat sendiri sering disebut Pasundan atau Tatar Sunda. Di Jawa Barat khususnya Suku Sunda memiliki berbagai jenis kaulinan sunda (permainan tradisional sunda-red) yang beragam dan jika dihitung mungkin ada sampai 50 (limapuluh) jenis permainan. Permainan tersebut diantaranya adalah : Permainan Tradisional Cingciripit , Oray – Orayan, Maen Kaleci, Boy Boyan/Boi-Boian, Galah Asin, Gatrik, Congklak, Pecle/Engkle, dan lain sebagainya.

Anak-anak di Kampung Cilenga Girang Desa Sariwangi sedang asik memainkan Kaulinan Sunda “Pecle”. (dokumentasi – gyamphkanp)

Namun tak jarang di tatar sunda sendiri permainan tradisional tersebut dengan berbagai macam nama. Contohnya permainan tradisional Engklek atau Engkle. Di tatar sunda sendiri permainan tradisional engklek ini ada yang menyebutnya engkle, tepok gunung dan pecle. Bahkan permainan engklek sendiri di Indonesia bisa berbagai macam nama diantaranya Engklek (Jawa ), Asinan, Gala Asin (Kalimantan), Intingan (Sampit), Tengge-tengge (Gorontalo), Cak Lingking (Bangka), Dengkleng, Teprok (Bali),  Gili-gili (Merauke), Deprok (Betawi), Gedrik (Banyuwangi), Bak-baan, engkle (Lamongan), Bendang (Lumajang), Engkleng (Pacitan), Sonda (Mojokerto), dan masih banyak lagi nama yang lain.

Di Desa Sariwangi permainan tradisional engklek lebih dikenal dengan sebutan kaulinan sunda engkle atau pecle. Dalam bahasa sunda sendiri engkle mengibaratkan orang yang salah satu kakinya kesakitan dan mempergunakan kaki lainnya untuk melangkah. “Mungkin karena cara dalam permainan dan cara melangkah seperti itu, permainan tradisional ini disebut engkle” menurut H. Zainal Wahid salah satu Pupuhu (yang dituakan-red) di Desa Sariwangi yang tidak mau diambil gambarnya. “Untuk kata Pecle sendiri berasal dari kata ngacle atau ngacleng (lompat-red). Karena permainan engkle sendiri kan harus melompat” begitu tambah sesepuh yang juga merupakan Ketua Rukun Warga.

Menurut para sepuh di Desa Sariwangi, kaulinan sunda pecle disebut  juga dengan sunda manda. Nama tersebut disadur dan diyakini mempunyai nama asli ‘Zondag Maandag’ yang merupakan bahasa Belanda. Memang sampai dengan saat ini tidak ada bukti sejarah yang otentik yang dapat menyimpulkan mengenai sejarah kaulinan sunda pecle. Namun permainan tradisional ini sudah sangat populer di kalangan anak perempuan di Eropa pada masa perang dunia. Sedangkan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda banyak dijumpai anak-anak perempuan Belanda bermain permainan tradisional ini. Memang permainan ini lebih banyak dimainkan oleh anak perempuan, walaupun ternyata kemudian anak-anak lelaki pun banyak yang turut bermain kaulinan sunda pecle.

Setiap daerah di tatar sunda atau pun daerah di Indonesia mempunyai keistimewaan dan keunikan tersendiri dalam kaulinan sunda pecle tersebut entah dari cara permainannya, aturannya, tahapan dan susunan kotak-kotaknya, dan lain sebagainya. Permainan tradisional engklek bisa diartikan sebagai simbol dari usaha manusia untuk membangun tempat tinggalnya dan sebagai simbol usaha manusia untuk mencapai kekuasaan. Namun dalam pencapaian usaha itu tentu saja manusia tidak bisa sembarangan dengan menabrak semua tata aturan yang telah ada. Namun selalu tetap berusaha selaras dengan aturan yang telah dibuat.

Disisi lain kaulinan sunda pecle ini juga memiliki manfaat seperti Melatih motorik kasar. Perkembangan saraf motorik kasar yang baik akan membantu anak-anak untuk lebih aktif, daya tahan tubuh lebih kuat, serta memiliki tubuh yang lentur. Kaulinan sunda pecle juga merupakan kegiatan olah raga yang baik dimana pecle mengajak anak anak untuk berolahraga sambil bermain. Menurut psikolog Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, bermain merupakan salah satu cara anak untuk belajar. “Dengan bermain anak-anak bisa mengenali berbagai kondisi lingkungan di sekitarnya, dan juga belajar berbagai macam hal, termasuk sosialisasi,”

Permainan engkle atau pecle adalah kaulinan sunda yang cara memainkannya dengan melompat atau meloncat pada bidang datar gambar diatas tanah atau bidang datar lainnya. Gambar tersebut berbentuk kotak-kotak kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak satu kekotak berikutnya. Cara bermain pecle adalah seperti ini :

  1. Pertama kali yang harus dilakukan sebelum melakukan permainan pecle adalah menggambar bidang pecle lebih dahulu.

    menggambar kota-kotak diatas tanah datar untuk kaulinan sunda pecle (dokumentasi – gyamphkanp)
  2. Kemudian pemain harus melakukan hompimpa untuk menentukan urutan siapa yang jalan terlebih dahulu. Hompimpa disini harus ditentukan yang berbeda pertama jalan pertama atau jalan terakhir. Tapi biasanya dalam hompimpa yang paling berbeda jalan terlebih dahulu begitu seterusnya. Hal ini dilakukan jika pemain lebih dari dua orang. Jika dua orang dilakukan suit.

    melakukan hompimpa untuk menentukan siapa yang main terlebih dahulu (dokumentasi – gyamphkanp)
  3. Untuk dapat bermain, setiap anak harus mempunyai kereweng / gacuk / buah / yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai, atau pun batu yang datar
  4. Para pemain harus melompat dengan menggunakan satu kaki di setiap kotak-kotak / petak-petak yang telah digambarkan sebelumnya di tanah.
  5. Kereweng/gacuk dilempar ke salah satu petak yang tergambar di tanah, petak dengan gacuk yang sudah berada diatasnya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada.

    jika garisnya terinjak pemain dianggap lasut (kalah-red). (dokumentasi – gyamphkanp)
  6. Pemain tidak diperbolehkan untuk melemparkan kereweng/gacuk  hingga melebihi kotak  atau petak yang telah disediakan. Jika ada pemain yang melakukan kesalahan tersebut maka pemain tersebut akan dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya.
  7. Pemain yang menyelesaikan satu putaran sampai di puncak gunung, mengambil kereweng /gajuk dengan membelakangi gunung dan menutup mata, tidak boleh menyentuh garis juga. Apabila pemain tersebut menyentuh garis/ terjatuh saat mengambil kerewengnya maka dia mati dan digantikan pemain selanjutnya.
  8. Apabila pemain berhasil mengambil gajuk di gunung, maka dia harus melemparkannya keluar dari bidang pecle. Kemudian pemain tersebut engkle/lompat sesuai dengan kotak dan diakhiri dengan berpijak pada gajuk/kereweng yang dilemparkan tadi.
  9. Selanjutnya apabila berhasil pemain lanjut ke tahap mencari sawah dengan cara, menjagling kereweng/gajuk dengan telapak tangan bolak-balik sebanyak 5 kali tanpa terjatuh. Hal ini dilakukan dalam posisi berjongkok membelakangi bidang pecle dan berada di tempat jatuhnya kereweng yang tadi di lempar. Setelah berhasil menjagling sebanyak 5 kali pemain masih dalam posisi yang sama melemparkan ke bidang engklek, apabila tepat pada salah satu bidang pecle maka bidang tersebut menjadi sawah pemain. Dan apabila gagal pemain mengulangi kembali dari gunung.
  10. Pemain yang memiliki sawah paling banyak adalah pemenangnya.

Di Kampung Cilenga Girang Desa Sariwangi kaulinan sunda masih sering kita lihat dimainkan anak-anak di kampung tersebut. Pecle atau engkle misalnya masih dimainkan ana-anak disana, tak hanya anak-anak perempuan anak-anak lelaki pun ikut memainkan-nya. Permainan tersebut biasanya di lakukan oleh anak anak saat tunggang gunung (sore menjelang maghrib sekitar jam 16.00 sampai 17.00 WIB) atau waktu sareureuh budak (sehabis isya menjelang jam sembilan malam) yang biasanya dilakukan setelah kegiatan pengajian malam itu pun saat bulan purnama.

Kang Momon mengenang masa kecil-nya. (dokumentasi – gyamphkanp)

“Waktos abdi alit mah sok pecle teh sonten dugi ka bade maghrib atanapi ba’da isya saatos pangaosan wengi eta ge pami caang bulan (waktu saya masih kecil suka pecle pada waktu sore sampai menjelang waktu maghrib atau setelah shalat Isya pulang pengajian itupun jika bulan purnama/terang bulan-red)” tutur Kang Momon, salah satu warga di Kampung Cilenga Girang yang sambil tersenyum-senyum membayangkan masa kecilnya. Memang jaman dahulu kaulinan sunda sering dilakukan saat terang bulan terutama bulan purnama. Saat itu pun orang tua pun ikut menyaksikan anak-anaknya bermain sambil bercengkerama dan memakan makanan kecil sampai menjelang pukul 21.00 WIB.

Saat ini beberapa kaulinan sunda seperti pecle dan lainnya itu beberapa diantaranya sudah tidak diketahui oleh anak-anak zaman sekarang.  Beberapa anak-anak lebih asik menggunakan gadget dibandingkan bermain permainan tradisional dan bersosialisasi dengan teman lainnya. Namun masih beruntung anak-anak di Kampung Cilenga girang Desa Sariwangi masih memainkan dan melestarikan permainan tradisional/kaulinan sunda tersebut.

Bapak Herman Dahlan, S.IP, Camat Kecamatan Sariwangi (dokumentasi – gyamphkanp)

Ada hal yang menggembirakan tentang kaulinan sunda di Kecamatan Sariwangi. Pemerintah Kecamatan Sariwangi dalam rapat koordinasi di bulan September menyampaikan akan melestarikan kaulinan sunda dalam acara HUT Kecamatan Sariwangi tahun depan. Saat ditemui diacara seleksi Gala Desa 2018 Kecamatan Sariwangi, Camat Sariwangi Bapak Herman Dahlan, S.IP. mengatakan “Dalam HUT Kecamatan Sariwangi tahun depan, Kami akan mengadakan upaya pelestarian kaulinan Sunda dalam upaya pelestarian Budaya Sunda sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2017”. “Kaulinan Sunda tersebut nanti akan di perlombakan dalam HUT Kecamatan Sariwangi beberapa diantaranya : gobag, jajangkungan, galah asin, dan lain sebagainya. Kita lagi konsep kaulinan sunda yang terutama yang permainannya beraroma olahraga, ketangkasan dan kepandaian” tambah Camat Sariwangi tersebut.

Ide tersebut sangat di apresiasi dan didukung oleh Tokoh-tokoh Masyarakat di Sariwangi sebagai upaya pelestarian budaya. Untuk selanjutnya pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa se-Kecamatan Sariwangi akan menggali potensi dan mengembangkan pariwisata di wilayah Kecamatan Sariwangi. Upaya untuk mendukung potensi tersebut diawali dengan pelestarian budaya salah satunya kaulinan sunda atau permainan tradisional. Upaya-upaya tersebut juga akan cepat terealisasi dengan dukungan Pandu Desa dengan mempromosikan melalui website Desa-desa di wilayah Kecamatan Sariwangi. Mari kita lestarikan apa yang kita miliki sebelum dimiliki orang lain. Merdesa. (gyamphkanp)

Facebook Comments

1 Trackback / Pingback

  1. PERMAINAN TRADISIONAL YANG MULAI TERLUPAKAN – DESA LINGGASIRNA

Tinggalkan Balasan