Renovasi Masjid Jami Darussalam dengan Budaya Gotong Royong

gotong royong wujud budaya bangsa

Sariwangi (31/10/2018). Masjid Jami Darussalam yang terletak di Kampung Cilenga Girang RT. 003 RW. 002 Desa Sariwangi Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya. Masjid Jami Darussalam adalah salah satu bangunan dari beberapa bangunan yang dahulunya adalah kawasan Pesantren bernama Pesantren Cilenga Girang yang dipimpin Bapak H. Gojali Alm. Yang konon pada saat itu Masjid Jami Darussalam ukuran bangunannya tak sebesar yang sekarang, namun keunikan-nya ada menaranya seperti masjid-masjid pada umumnya saat itu.

Kemurahan hati Bapak H. Abdullah Alm. yang mewakafkan tanahnya untuk sarana kegiatan keagamaan menjadikan wilayah pesantren menjadi lebih luas dari sebelumnya. Sekitar tahun 1977 Masjid Jami Darussalam dipugar untuk pertama kalinya dari swadaya masyarakat. Pada saat itu kepemimpinan Pesantren Cilenga Girang dipimpin oleh generasi kedua yang bernama H. Muhammad Sahroji Alm. Disaat yang bersamaan dibangun pula Madrasah Diniyah yang mengakibatkan Masjid sedikit bergeser dari posisi semula. Madrasah Diniyah tersebut dibangun untuk sarana belajar kegiatan keagamaan di sore hari untuk para santri dan warga masyarakat sekitar.

Kondisi atap Masjid Jami Darussalam yang sudah rapuh. (dokumen : tghariono)

Sudah sejak lama di Dusun Bojongpetir, Kampung Cilenga Girang dimana Masjid Jami Darussalam berlokasi adalah pusat segala kegiatan. Kegiatan keagamaan terutama dan juga kegiatan kemasyarakatan lainnya yang berhubungan dengan pendidikan, sosial dan budaya. Alhasil banyak pula yang datang ke Kampung Cilenga Girang belajar pendidikan Islam. Yang belajar disana bukan hanya dari wilayah Desa Sariwangi namun dari luar desa dan luar kecamatan sekalipun.

 

 

Prasasti Pemugaran Masjid Jami Darussalam tanggal 12 Maret 1995. (dokumen : gyamphkanp)

Masjid Jami Darussalam berdiri di hamparan tanah seluas 255 m² yang berdiri di sampingnya Madrasah Diniyah DTA Mathla’ul Khoeriyah dan TKA Al-Mujahirin 2 (dua). Pada Tahun 1995 Masjid Jami Darussalam kembali mengalami pemugaran untuk kali kedua. Dibawah pimpinan Ketua Persatuan Masyarakat Kedusunan Bojongpetir Bapak H. Ahmad Munir. Pada pemugaran tersebut Masjid menjadi lebih luas dari kondisi masjid pada pemugaran sebelumnya. Kondisi tersebut dikarenakan pada saat shalat ’Ied jamaah semakin banyak dan Masjid tak mampu menampung seluruh jamaah.

Pada pemugaran tersebut (kali kedua-red), biaya dan pengerjaan pemugaran dari swadaya masyarakat. Masyarakat Kedusunan Bojongpetir bahu membahu bergotongroyong untuk membangun Masjid Jami Darussalam. Selain bergotongroyong dalam pembangunan, masyarakat juga menyumbangkan material bangunan untuk pembangunan mesjid tersebut.

Selama itu pula masjid nan kokoh dan indah terjemur oleh teriknya panas matahari dan guyuran hujan. Namun Masjid Jami Darussalam yang dulu megah dan  kokoh, kini sudah lapuk oleh proses alam. Dan pada tahun 2018 ini, Masjid Jami Darussalam di renovasi bagian atapnya. Renovasi tersebut dikarenakan karena kondisi atap Masjid yang sudah lapuk karena proses alam dan bergeser akibat Gempa Bumi. Selain atap masjid plafon dan langit-langit pun sudah lapuk, di beberapa sudut Masjid ada yang berjatuhan. Hal tersebut mengakibatkan kekhawatiran roboh dan akan mengurangi kekhusyukan jamaah didalam Masjid.

Bangunan Masjid Jami Darussalam yang sedang di renovasi. (dokumen : tghariono)

Saat ini pun sama seperti sebelumnya, Masyarakat Dusun Bojongpetir kembali bersama-sama bergotongroyong untuk merenovasi Masjid Jami Darussalam. Tepatnya pada tanggal 15 Oktober 2018, genteng mesjid diturunkan secara bergotongroyong lalu dilanjutkan dengan membongkar langit-langit dan atap Masjid. Menjelang waktu Dhuhur Masyarakat beristirahat dan menjalankan shalat berjamaah dan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Makanan yang mereka santap siang tersebut diolah dan dimasak oleh Ibu-ibu dan semua makanan tersebut sumbangan dari masyarakat. Menjelang sore, Karena dikerjakan bersama-sama tak terasa Masjid Jami Darusalam hanya terlihat dindingnya saja.

Dibawah lindungan terpal. (dokumentasi : tghariono)

Selang sepekan, Masjid Jami Darussalam dapat dipergunakan untuk shalat jumat. Atap sementara ditutup terpal untuk menghindari cucuran air hujan dan terik panas matahari. Meski tak seluruh atapnya tak tertutupi terpal, namun dalam kondisi tersebut tidak mengurangi kekhusyukan jamaah untuk menjalankan ibadah shalat jumat.

Teguh Haryono, Kepala Dusun Bojongpetir. (dokumen : gyamphkanp)

”Dengan material seadanya dan semua swadaya masyarakat kita mempergunakan kembali material yang masih bagus untuk dipasang kembali” ucap Teguh Haryono, Kepala Dusun Bojongpetir. Ahad kemarin, 29 Oktober 2018 masyarakat kembali berkumpul dan bersama-sama membersihkan dan mencuci genteng Masjid sebelum kembali dipasang. ”Genteng yang kita cuci ini kita hilangkan kotorannya dan lumut yang menempel, maksudnya jika nanti genteng dicat akan lebih mudah dan cat akan menempel” tambah pria yang beralamat di Kampung Bojongpetir tersebut.

Sudah hampir 2 (dua) pekan, Alhamdulillah renovasi tersebut sudah hampir rampung. Renovasi Masjid Jami Darussalam sudah mencapai 80% (delapan puluh persen), tinggal memasang langit-langit selebihnya pengecatan. Masyarakat berharap cepat selesai agar masjid bersejarah tersebut kembali dipergunakan minimal pada hari jumat di awal bulan nanti. Masyarakat sebetulnya ingin memugar kembali masjid agar lebih kokoh dan awet, namun keterbatasan dana Masjid Jami Darussalam mendahulukan  di renovasi atapnya terlebih dahulu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kondisi DTA Mathla’ul Khoeriyah saat ini. (dokumentasi : gyamphkanp)

Renovasi masjid tersebut adalah swadaya dari masyarakat Kedusunan Bojongpetir dan warga lain yang peduli.  Bukan hanya materi tetapi tenaga pun itu juga adalah sebuah sumbangan yang berharga untuk renovasi Masjid Jami Darussalam. Namun disisi lain, Madrasah Diniyah DTA Mathla’ul Khoeriyah untuk belajar keagamaan atapnya pun sudah lapuk karena usianya yang hampir sama dengan usia Masjid. Dengan usulan dari Tokoh Masyarakat dan untuk menghindari korban yang tertimpa atap, akhirnya atapnya diturunkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Target kita selanjutnya memperbaiki DTA Mathla’ul Khoeriyah  agar bisa dipergunakan kembali untuk sarana pendidikan keagamaan dan lainnya. Semoga dengan postingan ini di kemudian hari ada peduli dan ingin membantu kita untuk merenovasi Madrasah Diniyah tersebut.

Kerjasama dan gotong royong warga adalah cerminan warisan budaya bangsa kita, menjadikan semuanya lebih ringan dan lebih mudah. (tghariono).

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan